Lewati ke isi
Lambang Kota Tomohon Kelurahan Taratara Satu Kota Tomohon

Sejarah Taratara Satu

Taratara adalah sebuah kampung, dalam bahasa Tombulu disebut wanua, yang terletak di antara Gunung Lokon dan Bukit Rawingkolo (Wawona). Sungai Makalesung dan Sungai Meras mengapitnya di utara, Sungai Ranowangko di timur dan selatan. Letak ini dianggap strategis dan relatif aman dari material vulkanik dan banjir.

Batas wilayah dan data letak lainnya ada di halaman Profil.

Sekilas perjalanan

  1. 1701Berdirinya Wanua Taratara, menurut kesepakatan seminar 2013
  2. 1978Dimekarkan menjadi Taratara Satu dan Taratara Dua
  3. 2006Desa menjadi kelurahan
  4. 2010Lingkungan dimekarkan dari lima menjadi delapan

Catatan waktu

Asal mula
Asal nama

Dari bunyi tumbuhan air

Nama Taratara berasal dari kata “taz-taz”, bunyi tumbuhan air yang banyak tumbuh di rawa dan kolam di utara wilayah ini ketika ditarik atau diinjak. Penyebutannya berubah menjadi “Tazataza”, lalu pada tahun 1800-an, di masa Belanda, menjadi “Taratara”.

Kampung pertama

Dari Walak Sarongsong ke Tinalinga’an

Taratara dibuka oleh orang-orang dari Walak Sarongsong, petani garam dan penangkap ikan di pantai Tanahwangko, yang sering melewati dan bermalam di wilayah ini, lalu menetap karena tanahnya subur.

Dalam ritual rumaghes datanglah burung Manguni dan berbunyi sembilan kali (Manguni makasiouw) sebagai tanda. Mereka mendirikan monumen batu Watu Tumani di tempat bernama Tinalinga’an, sekitar Gereja GMIM Imanuel sekarang. Kuburan batu kuno (waruga) di sekitarnya menjadi bukti perkampungan pertama.

Zaman Tona’as

Dipimpin para Tona’as

Pemimpin kampung disebut Tona’as. Yang diketahui: Tulong, Kalangi, Tambingon, Sumarandak Lelepouan, Sembel, dan Lontoh.

Masa Hukum Tua
1807 sampai 1809

Perang Tondano dan Hukum Tua pertama

Pada Perang Tondano warga mengungsi ke tempat persembunyian (gonggulang). Wilar menjadi pemimpin pribumi pertama yang bergelar Ukung Tua atau Hukum Tua (1807 sampai 1809).

1955

Masuk Distrik Tomohon

Pada masa Hukum Tua Pieter Tangkuman, Taratara menjadi bagian dari Distrik Tomohon.

Pemekaran dan kelurahan
11 Februari 1978

Taratara Satu dan Taratara Dua

Desa Taratara dimekarkan menjadi Taratara Satu dan Taratara Dua (SK Gubernur Sulawesi Utara Nomor 230 Tahun 1978). Taratara Satu dipimpin Hukum Tua Pieter Tangkuman.

26 Januari 2006

Menjadi kelurahan

Berdasarkan Perda Kota Tomohon Nomor 1 Tahun 2006, desa-desa di Kota Tomohon menjadi kelurahan, dan dusun diganti menjadi lingkungan.

7 September 2009

Kelurahan induk dan pemekaran

Berdasarkan Perda Kota Tomohon Nomor 12 Tahun 2009, Taratara Satu dimekarkan menjadi dua kelurahan: Taratara Satu sebagai kelurahan induk (lima lingkungan) dan Kelurahan Taratara sebagai kelurahan pemekaran.

1 Januari 2010

Dari lima menjadi delapan lingkungan

Lingkungan di Taratara Satu dimekarkan dari lima menjadi delapan.

Hari jadi
26 Juni

Hari ulang tahun kelurahan

Seminar penetapan pada 30 November 2013 menyepakati tahun 1701 sebagai berdirinya Wanua Taratara, bulan Juni (bulan lahir Pieter Tangkuman, 10 Juni 1914), dan tanggal 26 (tanggal Perda perubahan status desa menjadi kelurahan, 26 Januari 2006). Jadi hari ulang tahun Kelurahan Taratara Satu jatuh pada 26 Juni.

Sumber bacaan: Arsip Kelurahan Taratara Satu (Sejarah Desa Taratara dan data arsip); UU No. 5 Tahun 1979; UU No. 10 Tahun 2003; Perda Kota Tomohon No. 1 Tahun 2006 dan No. 12 Tahun 2009. Wawancara: Israel Lonta dan Daniel Lonta.